Senin, 07 September 2015

USD going Up. IDR going Down. We are going to ....

Rupiah melemah lagi...
Sedih? Ya sebagai warga negara Indonesia pastilah sedih. 
Koreksi IHSG yang dalam beberapa waktu belakangan ini bikin stress para investor. Iklim ekonomi yang lagi kemarau ini sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi politik Indonesia yang juga lagi dalam tahap pembenahan, mudah-mudahan ke arah yang lebih baik.  
Bla bla bla...
Hahaha.. sudahlah saya nggak cocok komen ala pengamat ekonomi. Apalagi ala pakar politik.

Sebagai orang awam, tentunya yang gampang dilihat adalah hal-hal yang ada di depan mata. Ekonomi memburuk, harga-harga naik, gaji segitu-gitu aja. Yeah, I know. It s*cks! Happens to me too.

Khawatir tentang saat ini sih udah pasti. Tapi optimis itu harus. Berdasarkan pengalaman, koreksi IHSG yang cukup dalam biasanya terjadi dalam kurun waktu tertentu. Antara tahun 1997 sampai 2014, IHSG mengalami penurunan sebanyak 6 kali yaitu tahun 1997, 1998, 2000, 2001, 2008 dan 2013. Tahun 1997 karena krisis moneter yang melanda Asia. 2008 karena efek krisis global subprime mortgage di US. 2013 karena ekonomi Indonesia memang mengalami perlambatan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi yang ngebut tapi impor juga meningkat (bla bla bla... udah deh ribet yah..hahaha).

Intinya menurut para pakar ekonomi, yang jelas bukan saya, kalau mau dirata-ratakan selama 14 tahun, IHSG mengalami penurunan rata-rata setiap tiga tahun sekali. Ini nggak berlaku mutlak. Ya namanya juga rata-rata berdasarkan historikal. Jadi intinya sih penurunan IHSG itu wajar-wajar aja. Ga usah kelewat khawatir. Kalau ada koreksi, justru artinya ada space buat IHSG di masa depan untuk rebound. Udah siklusnya kayak gitu. Toh saat ekonomi baik-baik saja, kita juga ga ribut kan (ya iyalah..)

Jadi kita harus gimana??? 
Tetap tenang dong. Kan udah punya planning. Dana daruratnya udah mulai dicicil kan? Investasi reksadana udah mulai belum? Kartu kredit lunas terus kan?

Nah kalo dari ketiga pertanyaan tersebut belum pada dijawab, silahkan mulai khawatir deh. Hahaha.. Jahat ya saya.

Gini lho mas-mas dan mbak-mbak sekalian, Dalam jangka pendek, IHSG memang lumrah aja terkoreksi beberapa kali, dan gak karu-karuan. Tapi untuk jangka panjang, pada akhirnya pergerakan IHSG akan mengikuti perkembangan perekonomian secara nasional. Saya pribadi masih percaya sama potensi Indonesia. Negara ini penuh orang-orang pintar yang pastinya bisa membawa fundamental perekonomian Indonesia menjadi lebih baik, kalau gak dalam 5 tahun ini, mudah-mudahan 5 tahun berikutnya. Jadi dalam jangka panjang, perekonomian kita masih ada harapan.

Saran saya. Buat yang belum punya planning, mulailah bikin 3 planning. Planning jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Kalau susah, 2 planning aja cukup. Boleh pilih. Sesuaikan sama kondisi kamu. 

Bukan mau sok jadi Fin Planner. Cuma mau ajak pada sadar diri aja. Tanpa planning, warga kelas menengah macam kita ga akan bisa punya apa-apa. Saya sendiri kesulitan untuk mencapai target finansial saya saat ini. Tapi Insha Allah, target finansial di masa depan saya nanti bisa tercapai.

Saya salah satu yang cuma punya 2 planning. Planning jangka pendek dan jangka panjang. Nggak muluk-muluk. 
Jangka pendek : ngumpulin dana darurat dan lunas kartu kredit. 
Jangka panjang: investasi reksadana untuk dana pensiun dan dana kesehatan pensiun.

Gampang gak sih? Jawabannya SUSAH pake BANGET!
5 tahun merantau di kota lain, kartu kredit saya nyaris ga pernah lunas karena bolak balik beli tiket pesawat! Plus saat udah stress kerena kerjaan, tiap pulang ke Jakarta pasti SHOPPING! Gaji masih segitu-gitu aja. Rebound yang bikin balance saat dapat Bonus atau THR. Itupun seringnya terpakai buat beli gadget baru atau travelling ke sana-sini, atau untuk kasih kado ke ibu saya mesin cuci baru. Kalau dibilang rejeki ga akan ketuker, itu bener banget! Rejeki kita memang segitu-gitu aja biarpun habis menang undian. 
Makanya sekarang saya berusaha "keras" sama diri sendiri. Caranya? Habis gajian, dengan tega langsung transfer uang gaji ke pos-pos tabungan dan investasi. Pos tabungan terbagi dua. Tabungan untuk pembayaran ini itu, termasuk transport, uang makan, bayar tagihan, dan lain-lain. Satu lagi tabungan dana darurat. Sebagian lagi langsung autodebet untuk investasi reksadana. Tentu saja jumlah-jumlahnya sudah saya kalkulasikan dulu dalam planning yang komprehensif (tsaelah...gaya bener..). Jadi sisa uang yang ada di rekening tinggal yang bisa dipakai saja, cukup gak cukup ya dicukup-cukupin. Ternyata bisa tuh cukup. Kan udah dihitung. 

Kalau kurang gimana?
Nah ini balik ke pertanyaan klise. Gaji kamu yang kurang atau gaya hidup kamu yang lebay?
Kalau gaji kurang, berarti harus cari ekstra income atau tingkatin kualitas kamu, pindah kerjaan, anything to raise your income so you can afford your expenses and invest!
Kalau gaya hidup lebay? Nah itu sih pikirin aja sendiri ya sebelum saya jadi ngomel :NGACA WOOYY!!!!

IHSG terkoreksi, mestinya justru semangat buat investasi di instrumen  murah meriah macam reksadana saham, yang returnnya menjanjikan buat masa depan, jangka panjang. Tapi inget, investasi baru boleh jalan setelah kamu pastiin hutang kartu kredit kamu lunas terus!
Kalau hutang motor atau mobil? Ya mending itu ada wujudnya, dan mestinya udah dimasukin di planning expenses kamu dan wujudnya di neraca kamu bagian fixed asset. Nah lho jadi ngomongin akuntansi kan :D

IDR going down, we are going to be strong. Have faith. Indonesia pasti bisa pulih. Ayo rapi-rapi planning keuangan kamu biar nggak sok ikut-ikutan stress.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar