Have you seen Inside Out? Yes, the Disney's movie about the little voices inside our head.
| Pic from here |
Saya penikmat bioskop sejati. Bisa dibilang nonton dvd atau nonton film di tv kabel bagi saya nggak sebanding dengan pengalaman nonton di bioskop.
Movie experience saat di dalam gedung bioskop rasanya spesial banget. Yah ga bisa dijelaskan dengan kata-kata lah. Makanya hampir semua film yang pernah saya tonton pasti nontonnya di bioskop.
Balik lagi ke Inside Out. Niatnya mau nge-rave film ini, tapi kok udah lumayan basi. Nontonnya aja udah bulan kemarin. Tapi karena buat saya semua film Disney punya kesan tersendiri, tetap aja pingin nge-rave. Disney's Movie favorit saya tentu saja film Up! dan Wreck It Ralph. Inside Out mungkin yang nomer 3 setelah dua film tadi.
Joy, Sadness, Anger, Disgust & Fear, adalah suara-suara kecil yang ada di kepala si gadis kecil Riley. Ga usah saya jelasin cerita detailnya ya (kebiasaan jadi spoiler soalnya hahaha). Intinya si Riley adalah gadis kecil yang periang, dimana pemeran utama di kepala Riley adalah Joy yang riang gembira, positive thinking, lovable, dan supel. Karena suatu kejadian yang dipicu oleh Sadness, kendali emosi Riley berpindah ke 3 sekawan yang kacau balau : Anger, Disgust & Fear. Sementara Joy dan Sadness terlempar dari Kantor Pusat ke Long Term Memory-nya Riley.
Dan film pun mulai seru. Betapa kontrol emosi mempengaruhi perubahan sikap Riley yang tadinya ceria dan positif, jadi pesimis, pemarah dan labil.
Suka banget sama film ini. Karena semua yang digambarkan bener-bener memproyeksikan sikap apa yang diambil alih oleh emosi tertentu. Adegan lucu saat menggambarkan kelima emosi di kepala Ayah dan Ibu, anjing dan kucing, asli bikin ngakak.. Atau saat produksi mimpi dibuat. Think about little Hollywood inside our head, LOL!
Nonton ini jadi mikir kalau semua kelakuan kita adalah cerminan emosi yang sedang ambil alih kendali emosi. Dan kadang kombinasi dari emosi itu mempengaruhi sikap yang kita ambil.
| pic from here |
Riley kebanyakan dikendalikan oleh Joy yang berkolaborasi dengan 4 emosi lain. Si Joy ini rada belagu sih. Ngerasa dia yang paling ngerti Riley. Moral of the story came up when Joy realize that Sadness, and the other emotions have important role too in building Riley's personality. The ups and downs of every emotions are important to make Riley the happy girl! Saya nangis setiap menara di personality land Riley runtuh. Terutama waktu Honesty Land dan Family Land runtuh. Duh, mungkin itu juga yang terjadi saat kita berubah sifat ya.
Diceritakan juga bahwa di Long Term Memory, diseleksi apa saja memori-memori yang mau kita ingat sampai dewasa. Kocak banget saat memori terpilih adalah jingle iklan permen karet jadul.
Kalau saya, sepertinya agak mirip Riley. Dengan kontrol emosi yang dominan dihandle oleh Joy dan Sadness. Ceria dan melankolis. Lha wong nonton kartun atau baca buku aja bisa sampe ketawa dan nangis sendiri! Kadang Disgust dan Anger juga ikutan sih. Kalau Fear kayaknya sedikit banget mendominasi emosi saya, kecuali kalau lagi nonton film horrornya Suzana kali ya.. Hahaha..
Recommended. Menurut saya malah lebih cocok ditonton orang dewasa daripada anak-anak. Bikin kita sadar, kalau sudah dewasa, harusnya bisa kontrol emosi dengan baik (inget scene ayah-ibu di meja makan).
Rating 4.5/5 stars. Bener-bener film psikologi ringan yang easy to watch. Bravo Disney!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar