Minggu, 27 September 2015

Commuter Line

Jakarta. Kota Maha Padat. Penduduk 10 juta jiwa, 20 juta kalau hitungannya Jabodetabek ikutan.
Traffic jam all over Jakarta. Transportation issue. Cliche.
Ga ada habisnya kalau sudah beralasan terlambat karena macet. Basi.

Saya salah satu warga yang ikut-ikutan menambah kepadatan Jakarta sejak 11 bulan terakhir ini. Sudah mencoba beberapa alternatif transportasi rumah-kantor. Dari menyetir mobil sendiri, naik bis departemen yang kebetulan ngetem depan komplek, naik ojek + transjakarta, naik ojek + commuterline, nebeng temen, semua udah! Yang terakhir kayaknya ga bisa dianggep rutinitas, malu juga nebeng melulu, hehehe..

Dari semua alternatif transportasi tersebut diatas, favorit saya naik bis departemen. Karena sudah pasti dapat kursi, dan bisa bobo sepanjang perjalanan, ongkosnya juga murah cuma IDR 9K saja dari Bekasi sampai Sudirman! Cuma kendalanya, kalau telat sedikit aja biasanya ditinggal dan kadang kalau bisnya bermasalah, harus buru-buru switching plan naik angkutan umum lainnya.

Transportasi paling menyebalkan adalah Transjakarta! Naik ini mah bukannya bikin praktis tapi malah tambah lelet. Masalahnya jalur busway belum sepenuhnya steril. Menuju haltenya pun terlalu panjang dan jauh. Ditambah lagi bisnya pun sudah bulukan, kadang ac-nya mati dan suka ada berita bis Transjakarta yang terbakar atau meledak!

Paling ideal itu (seharusnya) naik commuter line. Waktu tempuhnya pas. Jadwalnya (seringnya) on time. Dan hampir semua stasiunnya mudah diakses. Harga tiketnya ya ampun MURAH PARAH! (maaf, terlalu antusias sampai capslock - bold).


Ini mungkin beberapa alasan orang-orang rela naik CL sampai desak-desakan. Dan yang saya maksud desak-desakan itu betul-betul harfiah. Sampai bisa tidur sambil berdiri tanpa pegangan dan ga jatuh!

Berhubung selama 3 bulan saya ada urusan dan harus tinggal di Depok yang super macet sekali kalau harus menyetir sendiri setiap hari ke kantor, sayapun mulai memikirkan alternatif transportasi dengan Commuter Line.

Naik kereta cukup 'tricky'. Bahkan teman saya bilang kalau saya ga akan sanggup deh naik kereta dengan segala perjuangan yang luar biasa berat apalagi kereta Depok & Bogor memang terkenal selalu padat.
Dengan segala niat dan tekad bulat supaya tidak perlu berkutat dengan kemacetan jakarta, biaya bensin dan tol yang membengkak, juga jaga mulut supaya ga sering ngomel dan mengumpat selama nyetir sendiri, akhirnya sayapun memutuskan untuk naik The Commuter Line dan resmi menjadi "anak kereta".

Naik Commuter Line itu  sangat praktis dan benar-benar menghemat waktu dan biaya. Anda belum resmi jadi anker kalau belum punya kartu transaksi elektronik. Beberapa bank mengeluarkan uang elektronik ini. Saya kebetulan sudah punya Flazz dar BCA. Jadi ya tinggal top up aja, dan saat pertama kali naik kereta, kartu ini harus diaktivasi dulu di alat aktivasi yang nempel di stasiun. Setelah kartu aktif, bisa langsung di-tap ke palang pintu, dan setelah sampai di stasiun tujuan, tinggal di-tap lagi di palang pintu keluar untuk langsung didebet sesuai biaya berlaku. Sistem ini udah mirip MRT di Singapore. Praktis dan cashless.

Tapi dibalik itu, butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa naik dan turun dari CL pada saat rush-hour. Favorit saya untuk jam keberangkatan adalah pukul setengah enam pagi. Pada jam segini, volume penumpang pun sudah sangat banyak karena stasiun tempat saya naik (Universitas Indonesia) termasuk stasiun ketiga dari arah Depok, dan entah stasiun keberapa kalau dari arah Bogor. Bayangkan itu orang Bogor pada berangkat jam berapa ya??? Anyway, meski sudah cukup padat, tapi masih memungkinkan saya untuk masuk kereta tanpa perlu menjejalkan diri susah payah.

Satu waktu saya pernah terlambat dan memutuskan naik dari stasiun berikutnya (Universitas Pancasila). Disana saya tertinggal kereta setengah enam dari UI, akhirnya saya menungu kereta berikutnya. Padatnya luar biasa. Saya mau naik saja sampai harus ditarik oleh orang yang sudah didalam, dan nyaris terjepit pintu yang tidak mau menutup! Sesak luar biasa sampai rasanya tulang belikat saya agak bergeser (hiperbola, tapi memang kayaknya otot saya ketarik sih). Kebetulan gerbong wanita penuh sekali, jadi saya dapat yang gerbong umum.
Perlu diketahui, gerbong wanita, meskipun isinya wanita semua (dan satu petugas laki-laki yang entah harus bahagia atau menderita didempetin cewek-cewek yang beringas setiap hari), justru merupakan gerbong yang sadis. Entah kenapa para wanita ini perkasa dan cukup tega saat dorong-dorongan, kadang sampai cakar-cakaran, ditambah komentar dari mulutnya pun sadis. Untungnya di gerbong wanita, udaranya cukup segar, karena umumnya wanita-wanita lebih sedikit berkeringat dibandingkan laki-laki. Saya cukup bersyukur tinggi badan saya lumayan menolong untuk dapat bernafas lega, karena para wanita umumnya mungil-mungil. Berbeda dengan gerbong umum, para pria tenaganya lebih kuat dan tubuhnya juga lebih tinggi. Tapi mereka justru tidak dorong-dorongan. Yang saya khawatirkan cuma saat kereta padat, ada pria yang memanfaatkan kesempatan saat berdesakan dengan wanita. Belum lagi bau badan pria cukup parah saat berkeringat (apalagi jam pulang kantor..hiiyyy..)

Trik paling aman saat naik kereta dalam kondisi penuh ada 3:
1. Pakai ransel! Amankan barang berharga dan pakai ransel di depan. Ga usah sok cantik pakai tas girly kalau bawaan kamu banyak. Ribet!
2.  Pakai sepatu yang kuat dan nyaman. Resiko terinjak dan berdiri cukup lama mengharuskan sepatu kamu tahan banting tapi tetap cukup nyaman. Jangan pakai sandal apalagi sandal jepit. Sandal lebih gampang lepas dan kaki juga sakit terinjak-injak.
3. Pilih posisi di tengah. Jangan berdiri dekat bangku karena ga nyaman saat sedang penuh, kamu bisa terdorong ke arah penumpang yang duduk. Jangan dekat pintu karena repot kalau ada ynag turun, kadang jadi terbawa arus, padahal kamu belum saatnya turun. Pilih posisi tengah dan cukup dekat pintu supaya mudah keluar tapi juga tidak terlalu terdorong-dorong.

Saat kondisi sepadat itu, banyak hal-hal lucu yang terjadi. Misalnya saja, saya jadi sering tidak sengaja membaca isi chat orang di sekeliling saya. Bukannya bermaksud melihat, tapi memang posisi berdiri yang super padat membuat saya otomatis menghadapi punggung orang yang sedang asik chatting di handheldnya. Ada juga ibu-ibu yang terus mengeluh kalau badannya terdorong dari sana sini. Atau ada ibu hamil yang sekuat tenaga melalui kerumunan supaya dapat tempat duduk sambil teriak-teriak "Hamil..hamil..." 
Yang paling lucu adalah ekspresi dari mas-mas petugas CL yang menjaga gerbong wanita. Mereka seringkali kesulitan berjaga di pintu dan malah didesak-desak ibu-ibu sampai muka dan badannya menempel di kaca pintu kereta. Hahaha..ini lucu sekali kalau lihat aslinya. Mestinya ini pekerjaan idaman para pria, bisa dipepet oleh wanita-wanita layaknya rocker ternama. Tapi tampang si mas petugas itu terlihat menderita sekali.

Jam pulang kantor juga ga kalah padatnya. Kalau mau menghindari kepadatan, bisa pilih untuk pulang di atas jam 7 malam, jam segini relatif lebih lowong karena orang juga punya lebih banyak alternatif kendaraan saat pulang kantor malam hari.

Overall, pengalaman naik CL sangat seru. Meskipun menghemat jarak tempuh, tapi ternyata efek lelah yang dihasilkan, menurut saya, lebih parah daripada menyetir sendiri! Jadi untuk sementara ini saya selang seling naik kereta dengan bawa kendaraan sendiri. Kalau lagi capek, saya pilih bawa kendaraan. Karena berjubelnya CL betul-betul menguras tenaga.

Mudah-mudahan ke depannya transportasi umum di Jakarta sudah integrated dan lebih nyaman lagi.





Selasa, 08 September 2015

Lipsticks

Lippie yeaaay...

Women are crazy about lipsticks!
Atau mungkin cuma saya?

Jadi sebenarnya saya ini dulu cewek tomboy. Boro-boro dandan. Sampai kuliah pun bedak saya masih bedak bayi. Tapi sejak kerja mulailah sadar kalau saya ini perempuan biasa, bukan Dian Sastro atau Miranda Kerr yang bangun tidur aja udah cantik. Lha kalo saya nggak dandan, buat ngelihat diri sendiri aja malas, apalagi orang lain yang lihat ya, hahaha.. 
Intinya sih berawal dari pekerjaan saya yang sering ketemu sama orang-orang sehubungan sama pekerjaan yang judulnya aja ada embel-embel "relationship"-nya. Walhasil mulailah cari-cari yang pantes buat ditemplokin ke muka ini apa aja sih, minimal biar panteslah penampilan saat ketemu client. Alhamdulillah kulit muka saya nggak bermasalah. paling butek aja kalo udah siang, wajarlah, tinggal oser-oser bedak ntar juga seger lagi. Tapi kalo udah urusan sama lipstick, saya agak lemah. Baru sadar waktu bongkar make up pouch yang gendut banget, ternyata di dalamnya ada 16 lipstick! Itu baru di pouch, belum yang di meja rias. Yes, I admit, I am a lipstick-junkie since 2 years ago! Karena 2 tahun lalu, saya sempat di Sydney. Dan seriusan ya, belanja make up di sana itu heaven banget. Berasa ga sih, kalo di sini belanja make up, kita pasti dibuntutin sama mbak-mbak SPG-nya, ditawarin ini itu. Kalo ga jadi beli dijutekin. Di luar negeri, terutama negara maju, kita dibiarin aja gitu berlama-lama melototin make-up unyu-unyu yang boro-boro masuk Indonesia, kalopun masuk harganya jadi naujubilah. Dan disitulah saya menyadari betapa banyaknya lipstick nan unyu nan murce terutama di dept store-nya yang banyak promo. 

Lipstick saya ga mesti merk mahal. Ini aja variatif banget dari yang lokal sampai yang belinya mesti PO pun ada. Kalau dilihat-lihat, dari koleksi lipstick yang saya punya, sebetulnya bukan niat koleksi, tapi lebih ke pencarian jatidiri (halah...alasan!). Maksud saya, tekstur dan warna lipstick di bibir tiap orang beda-beda. Warna boleh sama, tapi hasil akhir dipakai sama A belum tentu sama waktu dipakai oleh B. Begitu pula daya tahannya. Nah, supaya tahu mana yang paling pas tentu saja mesti mencoba sendiri (lagi-lagi, alasan!)

Oke saat ini lipstick yang lagi tren adalah yang liquid matte. Saya bukan tipe yang ngikutin trend, karena setelah dipikir-pikir lipstick andalan saya masih yang konvensional. Tapi dari segi tekstur, saya lagi dalam pencarian lipstick matte yang ga bikin bibir ngelotok. Meski harus saya akui, liquid lipstick memang cukup tempting untuk dikoleksi.

Lipstick kesukaan saya adalah yang punya ciri-ciri sebagai berikut:
- warna kalem kayak mauvey, rosey, smokey, a bit bright is okay
- tekstur nyaman di bibir. No glossy. No dead matte.
- opaque (ini istilah awamnya = kereng ...or whatsoever. i don't like sheer lippies)
- long lasting
- nggak beleberan 

Displaying IMG_20150906_154138.jpg
My lippies from my make up pouch
Lipstick saya nggak ada yang merk MAC, Anastasia Beverly Hills, Benefit atau Lime Crime. Saya masih cukup SADAR buat buang duit more than IDR 300k cuma buat sebatang lipstick. Yang terakhir konon dia animal testing, jadi lebih ogah lagi belinya. Eh tapi ada satu lipstick YSL yang harganya lumayan mahal dan cukup enak dipakai. Tapi duit segitu bisa buat beli 5 lipstik yang kualitasnya mid-end dan bisa koleksi warna *ga mau rugi*.
Dilihat dari rentetan lippies saya di range harga IDR 25k - 275k. Kalo pas lagi keluar negeri, kayaknya koleksi lippies nya bisa nambah setengah lusin, secara sering BOGO dan bikin khilaf itu diskonan dept.store & drugstorenya.

Sekarang di pouch udah ga sampai 16 lipstick sih, cuma bawa 6 aja. Beberapa saya kasih ke Ibu, kakak, teman, beberapa dibuang karena packaging yang jelek dan isi lipsticknya berhamburan bikin jorok pouch saya.

Lipstick sebanyak itu emang dipake semua? 
Jawabannya : IYA. Saya pakai semua! Dalam make-up pouch saya sekarang ada 6 lipstick. Dalam sehari saya re-touch lipstick bisa sampai 5 kali. Pagi sebelum mulai kerja, setelah sholat Dhuhur, setelah makan, setelah sholat Ashar, kalau mau meeting atau sebelum pulang kantor. Itu 6 lipstick saya pakai gantian. kadang di mix beberapa warna. Ada teknik campur warna lipstick yang jadi favorit saya biar menghasilkan warna baru tapi gak ketebelan. Yes, retouching lipstick is a must. Karena kalo abis wudhu atau makan udah pasti lipstick terhapus, even lipstick with a great staying power pasti fade juga setelah makan.

Belakangan sudah cukup insyaf untuk ga beli lipstick lagi. Luckily, my dearest friends always remind me to stop being mubazir. Walau godaan untuk beli salah satu merk yang jadi wishlist saya terpaksa ditangguhkan dulu dengan  berat hati. Intinya, sekarang saya udah stop belanja lipstick. Alhamdulillah. 

Tiga lipstick favorit saya adalah:
BOURJOUIS Rouge 12 Heurs in Prune In The Afternoon
BOURJOUIS Rouge Edition Velvet in Beau Brun
REVLON Colorburst Matte Balm in Sultry 

Favorit karena warnanya kesukaan saya, tekstur oke, ga bikin kering dan daya tahan serta harganya reasonable.

Displaying IMG_20150906_163611.jpg

Ini tiga-tiganya warnanya mirip-mirip semua :p

Untuk lipliner saya cuma punya PAC (tapi punya 2 warna)

Tiga lipstick lain yang ada di make up pouch saya adalah:
WARDAH Longlasting Lipstick No.4
Rimmel Lasting Finish by Kate No. 107
Wet & Wild Megalast Lipstick in Mauve Outta Here


Displaying IMG_20150906_163823.jpg

Ini warnanya pink, bold dark red dan bright mauve. Buat variasi.

Kalau diperhatikan, lipstick saya ujungnya miring dan agak cekung di bagian tengah. Ini katanya sih mencerminkan kepribadian yang kreatif, selalu menaruh perhatian saat orang lain bicara, punya energi yang besar, mudah jatuh cinta, disukai banyak orang karena sering menolong tanpa diminta.
Cek artikelnya di sini

Percaya ga percaya sih. Kalo yang bagus anggep aja bener ya.. hahaha..
But it is true I am a caring person. Beruntunglah yang berteman dengan saya, karena saya seringkali jadi tempat sampah buat curhatan teman-teman saya. Kadang cuma dengerin doang sih, ga kasih nasehat. Some people just need to be heard. 

Lippies and personality. Coba perhatikan ujung lipstickmu.




Senin, 07 September 2015

USD going Up. IDR going Down. We are going to ....

Rupiah melemah lagi...
Sedih? Ya sebagai warga negara Indonesia pastilah sedih. 
Koreksi IHSG yang dalam beberapa waktu belakangan ini bikin stress para investor. Iklim ekonomi yang lagi kemarau ini sebagian besar dipengaruhi oleh kondisi politik Indonesia yang juga lagi dalam tahap pembenahan, mudah-mudahan ke arah yang lebih baik.  
Bla bla bla...
Hahaha.. sudahlah saya nggak cocok komen ala pengamat ekonomi. Apalagi ala pakar politik.

Sebagai orang awam, tentunya yang gampang dilihat adalah hal-hal yang ada di depan mata. Ekonomi memburuk, harga-harga naik, gaji segitu-gitu aja. Yeah, I know. It s*cks! Happens to me too.

Khawatir tentang saat ini sih udah pasti. Tapi optimis itu harus. Berdasarkan pengalaman, koreksi IHSG yang cukup dalam biasanya terjadi dalam kurun waktu tertentu. Antara tahun 1997 sampai 2014, IHSG mengalami penurunan sebanyak 6 kali yaitu tahun 1997, 1998, 2000, 2001, 2008 dan 2013. Tahun 1997 karena krisis moneter yang melanda Asia. 2008 karena efek krisis global subprime mortgage di US. 2013 karena ekonomi Indonesia memang mengalami perlambatan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi yang ngebut tapi impor juga meningkat (bla bla bla... udah deh ribet yah..hahaha).

Intinya menurut para pakar ekonomi, yang jelas bukan saya, kalau mau dirata-ratakan selama 14 tahun, IHSG mengalami penurunan rata-rata setiap tiga tahun sekali. Ini nggak berlaku mutlak. Ya namanya juga rata-rata berdasarkan historikal. Jadi intinya sih penurunan IHSG itu wajar-wajar aja. Ga usah kelewat khawatir. Kalau ada koreksi, justru artinya ada space buat IHSG di masa depan untuk rebound. Udah siklusnya kayak gitu. Toh saat ekonomi baik-baik saja, kita juga ga ribut kan (ya iyalah..)

Jadi kita harus gimana??? 
Tetap tenang dong. Kan udah punya planning. Dana daruratnya udah mulai dicicil kan? Investasi reksadana udah mulai belum? Kartu kredit lunas terus kan?

Nah kalo dari ketiga pertanyaan tersebut belum pada dijawab, silahkan mulai khawatir deh. Hahaha.. Jahat ya saya.

Gini lho mas-mas dan mbak-mbak sekalian, Dalam jangka pendek, IHSG memang lumrah aja terkoreksi beberapa kali, dan gak karu-karuan. Tapi untuk jangka panjang, pada akhirnya pergerakan IHSG akan mengikuti perkembangan perekonomian secara nasional. Saya pribadi masih percaya sama potensi Indonesia. Negara ini penuh orang-orang pintar yang pastinya bisa membawa fundamental perekonomian Indonesia menjadi lebih baik, kalau gak dalam 5 tahun ini, mudah-mudahan 5 tahun berikutnya. Jadi dalam jangka panjang, perekonomian kita masih ada harapan.

Saran saya. Buat yang belum punya planning, mulailah bikin 3 planning. Planning jangka pendek, menengah, dan jangka panjang. Kalau susah, 2 planning aja cukup. Boleh pilih. Sesuaikan sama kondisi kamu. 

Bukan mau sok jadi Fin Planner. Cuma mau ajak pada sadar diri aja. Tanpa planning, warga kelas menengah macam kita ga akan bisa punya apa-apa. Saya sendiri kesulitan untuk mencapai target finansial saya saat ini. Tapi Insha Allah, target finansial di masa depan saya nanti bisa tercapai.

Saya salah satu yang cuma punya 2 planning. Planning jangka pendek dan jangka panjang. Nggak muluk-muluk. 
Jangka pendek : ngumpulin dana darurat dan lunas kartu kredit. 
Jangka panjang: investasi reksadana untuk dana pensiun dan dana kesehatan pensiun.

Gampang gak sih? Jawabannya SUSAH pake BANGET!
5 tahun merantau di kota lain, kartu kredit saya nyaris ga pernah lunas karena bolak balik beli tiket pesawat! Plus saat udah stress kerena kerjaan, tiap pulang ke Jakarta pasti SHOPPING! Gaji masih segitu-gitu aja. Rebound yang bikin balance saat dapat Bonus atau THR. Itupun seringnya terpakai buat beli gadget baru atau travelling ke sana-sini, atau untuk kasih kado ke ibu saya mesin cuci baru. Kalau dibilang rejeki ga akan ketuker, itu bener banget! Rejeki kita memang segitu-gitu aja biarpun habis menang undian. 
Makanya sekarang saya berusaha "keras" sama diri sendiri. Caranya? Habis gajian, dengan tega langsung transfer uang gaji ke pos-pos tabungan dan investasi. Pos tabungan terbagi dua. Tabungan untuk pembayaran ini itu, termasuk transport, uang makan, bayar tagihan, dan lain-lain. Satu lagi tabungan dana darurat. Sebagian lagi langsung autodebet untuk investasi reksadana. Tentu saja jumlah-jumlahnya sudah saya kalkulasikan dulu dalam planning yang komprehensif (tsaelah...gaya bener..). Jadi sisa uang yang ada di rekening tinggal yang bisa dipakai saja, cukup gak cukup ya dicukup-cukupin. Ternyata bisa tuh cukup. Kan udah dihitung. 

Kalau kurang gimana?
Nah ini balik ke pertanyaan klise. Gaji kamu yang kurang atau gaya hidup kamu yang lebay?
Kalau gaji kurang, berarti harus cari ekstra income atau tingkatin kualitas kamu, pindah kerjaan, anything to raise your income so you can afford your expenses and invest!
Kalau gaya hidup lebay? Nah itu sih pikirin aja sendiri ya sebelum saya jadi ngomel :NGACA WOOYY!!!!

IHSG terkoreksi, mestinya justru semangat buat investasi di instrumen  murah meriah macam reksadana saham, yang returnnya menjanjikan buat masa depan, jangka panjang. Tapi inget, investasi baru boleh jalan setelah kamu pastiin hutang kartu kredit kamu lunas terus!
Kalau hutang motor atau mobil? Ya mending itu ada wujudnya, dan mestinya udah dimasukin di planning expenses kamu dan wujudnya di neraca kamu bagian fixed asset. Nah lho jadi ngomongin akuntansi kan :D

IDR going down, we are going to be strong. Have faith. Indonesia pasti bisa pulih. Ayo rapi-rapi planning keuangan kamu biar nggak sok ikut-ikutan stress.









Minggu, 06 September 2015

Inside Out : All of our emotions are important!

Have you seen Inside Out? Yes, the Disney's movie about the little voices inside our head. 

Pic from here

Saya penikmat bioskop sejati. Bisa dibilang nonton dvd atau nonton film di tv kabel bagi saya nggak sebanding dengan pengalaman nonton di bioskop. 
Movie experience saat di dalam gedung bioskop rasanya spesial banget. Yah ga bisa dijelaskan dengan kata-kata lah. Makanya hampir semua film yang pernah saya tonton pasti nontonnya di bioskop. 

Balik lagi ke Inside Out. Niatnya mau nge-rave film ini, tapi kok udah lumayan basi. Nontonnya aja udah bulan kemarin. Tapi karena buat saya semua film Disney punya kesan tersendiri, tetap aja pingin nge-rave. Disney's Movie favorit saya tentu saja film Up! dan Wreck It Ralph. Inside Out mungkin yang nomer 3 setelah dua film tadi.

Joy, Sadness, Anger, Disgust & Fear, adalah suara-suara kecil yang ada di kepala si gadis kecil Riley. Ga usah saya jelasin cerita detailnya ya (kebiasaan jadi spoiler soalnya hahaha). Intinya si Riley adalah gadis kecil yang periang, dimana pemeran utama di kepala Riley adalah Joy yang riang gembira, positive thinking, lovable, dan supel. Karena suatu kejadian yang dipicu oleh Sadness, kendali emosi Riley berpindah ke 3 sekawan yang kacau balau : Anger, Disgust & Fear. Sementara Joy dan Sadness terlempar dari Kantor Pusat ke Long Term Memory-nya Riley. 
Dan film pun mulai seru. Betapa kontrol emosi mempengaruhi perubahan sikap Riley yang tadinya ceria dan positif, jadi pesimis, pemarah dan labil.

Suka banget sama film ini. Karena semua yang digambarkan bener-bener memproyeksikan sikap apa yang diambil alih oleh emosi tertentu. Adegan lucu saat menggambarkan kelima emosi di kepala Ayah dan Ibu, anjing dan kucing, asli bikin ngakak.. Atau saat produksi mimpi dibuat. Think about little Hollywood inside our head, LOL!

Nonton ini jadi mikir kalau semua kelakuan kita adalah cerminan emosi yang sedang ambil alih kendali emosi. Dan kadang kombinasi dari emosi itu mempengaruhi sikap yang kita ambil.

Inside Out emotions
pic from here
Riley kebanyakan dikendalikan oleh Joy yang berkolaborasi dengan 4 emosi lain. Si Joy ini rada belagu sih. Ngerasa dia yang paling ngerti Riley. Moral of the story came up when Joy realize that Sadness, and the other emotions have important role too in building Riley's personality. The ups and downs of every emotions are important to make Riley the happy girl! Saya nangis setiap menara di personality land Riley runtuh. Terutama waktu Honesty Land dan Family Land runtuh. Duh, mungkin itu juga yang terjadi saat kita berubah sifat ya.
Diceritakan juga bahwa di Long Term Memory, diseleksi apa saja memori-memori yang mau kita ingat  sampai dewasa. Kocak banget saat memori terpilih adalah jingle iklan permen karet jadul.



Kalau saya, sepertinya agak mirip Riley. Dengan kontrol emosi yang dominan dihandle oleh Joy dan Sadness. Ceria dan melankolis. Lha wong nonton kartun atau baca buku aja bisa sampe ketawa dan nangis sendiri! Kadang Disgust dan Anger juga ikutan sih. Kalau Fear kayaknya sedikit banget mendominasi emosi saya, kecuali kalau lagi nonton film horrornya Suzana kali ya.. Hahaha..

Recommended. Menurut saya malah lebih cocok ditonton orang dewasa daripada anak-anak. Bikin kita sadar, kalau sudah dewasa, harusnya bisa kontrol emosi dengan baik (inget scene ayah-ibu di meja makan). 

Rating 4.5/5 stars. Bener-bener film psikologi ringan yang easy to watch. Bravo Disney!

Sabtu, 15 Agustus 2015

first post!

My First Post!

Lama banget ga nge-blog. Kayaknya sudah dua tahun sejak terakhir ngeblog di wordpress. Karena banyak cerita yang sudah terlalu jauh jeda waktunya, jadi saya memutuskan untuk buat blog baru disini. Supaya gap-nya ga terlalu berasa dan kebetulan memang kepingin ganti style. 

Blogging itu semacam obsesi saya buat jadi hal yang rutin dilakukan setelah dewasa. Tapi susah banget buat diwujudkan. Banyak alasan aja, sibuk kerja, dan terutama, malas. Dulu jaman SMP-SMA hobi banget nulis diary. Sebelum ada buku curhat ala AADC, saya udah punya diary sharing sama teman sebangku saya pas SMP. Padahal AADC itu tayangnya pas saya SMA! (ketauan angkatan deh!). Sewaktu SMP, saya juga sempat buat semacam novel, yang sekarang file-nya entah dimana, dan belum sempat diselesaikan. Isi novelnya setaraf script sinetron Tersanjung 1-6 deh, saking panjang banget. Mungkin harusnya saya nyoba jadi scriptwriter atau novelis saja. Selama SMA juga rajin nulis jurnal pribadi, yang kalau dibaca sekarang isinya kok agak memalukan dan jadul banget gitu yah..hahaha..

Menulis itu hal yang menyenangkan sekali bagi saya. Mungkin karena saya orang yang senang bercerita. Umumnya orang yang extrovert kurang suka menulis lho, Tapi mungkin disitu bedanya antara orang yang extrovert sama introvert dalam menulis. Orang extrovert cenderung menulis dengan gaya bahasa yang memang sehari-hari dilakukan. Jauh dari puitis apalagi romantis. Hal yang diceritakan juga cenderung hal-hal yang biasa. Pokoknya ya cerita aja deh apa adanya. Saya suka berbagi cerita ke teman-teman dan senang banget kalau ternyata sharingnya bermanfaat buat orang lain.

Sebenarnya saya mulai semangat untuk blogging lagi karena salah satu kenalan saya, orang yang sehari-harinya sangat pendiam, tergolong introvert, ternyata adalah seorang blogger yang sangat aktif (dan cukup terkenal untuk membuat saya tidak mencantumkan namanya). Ga nyangka kalau sosok orang yang cenderung kaku dan cool ini ternyata punya gaya bahasa yang sama sekali berbeda begitu menulis. And it's kinda cool! Tulisannya enak dibaca, mostly in English, And some comments he wrote in German. Just like what i've mentioned before, orang introvert biasanya lebih suka menulis dibanding orang yang extrovert. Mungkin karena menulis adalah media yang lebih nyaman untuk menuangkan pemikiran secara bebas dibandingkan harus bercerita secara langsung. Sambil menulis, kita bisa bebas menimbulkan kesan tertentu yang kita mau. Be poetic, romantic, idealistic, original. Be everything you want to be. 

Kalau dalam blog saya, pastinya jauh dari semua yang puitis. Isi blog ini tidak jauh dari hal-hal yang saya sukai dan pastinya pengalaman pribadi atau sekedar pemikiran saya sendiri. Ringan saja, sekedar menyalurkan hobi menulis saya, sekedar berbagi tentang hal-hal yang saya ketahui.

Jadi, 15 Agustus 2015, H-2 dari Hari Kemerdekaan Indonesia. Hari pertama saya blogging kembali. Hari kebebasan bagi saya untuk kembali menulis.