Jakarta. Kota Maha Padat. Penduduk 10 juta jiwa, 20 juta kalau hitungannya Jabodetabek ikutan.
Traffic jam all over Jakarta. Transportation issue. Cliche.
Ga ada habisnya kalau sudah beralasan terlambat karena macet. Basi.
Saya salah satu warga yang ikut-ikutan menambah kepadatan Jakarta sejak 11 bulan terakhir ini. Sudah mencoba beberapa alternatif transportasi rumah-kantor. Dari menyetir mobil sendiri, naik bis departemen yang kebetulan ngetem depan komplek, naik ojek + transjakarta, naik ojek + commuterline, nebeng temen, semua udah! Yang terakhir kayaknya ga bisa dianggep rutinitas, malu juga nebeng melulu, hehehe..
Dari semua alternatif transportasi tersebut diatas, favorit saya naik bis departemen. Karena sudah pasti dapat kursi, dan bisa bobo sepanjang perjalanan, ongkosnya juga murah cuma IDR 9K saja dari Bekasi sampai Sudirman! Cuma kendalanya, kalau telat sedikit aja biasanya ditinggal dan kadang kalau bisnya bermasalah, harus buru-buru switching plan naik angkutan umum lainnya.
Transportasi paling menyebalkan adalah Transjakarta! Naik ini mah bukannya bikin praktis tapi malah tambah lelet. Masalahnya jalur busway belum sepenuhnya steril. Menuju haltenya pun terlalu panjang dan jauh. Ditambah lagi bisnya pun sudah bulukan, kadang ac-nya mati dan suka ada berita bis Transjakarta yang terbakar atau meledak!
Paling ideal itu (seharusnya) naik commuter line. Waktu tempuhnya pas. Jadwalnya (seringnya) on time. Dan hampir semua stasiunnya mudah diakses. Harga tiketnya ya ampun MURAH PARAH! (maaf, terlalu antusias sampai capslock - bold).
Ini mungkin beberapa alasan orang-orang rela naik CL sampai desak-desakan. Dan yang saya maksud desak-desakan itu betul-betul harfiah. Sampai bisa tidur sambil berdiri tanpa pegangan dan ga jatuh!
Berhubung selama 3 bulan saya ada urusan dan harus tinggal di Depok yang super macet sekali kalau harus menyetir sendiri setiap hari ke kantor, sayapun mulai memikirkan alternatif transportasi dengan Commuter Line.
Naik kereta cukup 'tricky'. Bahkan teman saya bilang kalau saya ga akan sanggup deh naik kereta dengan segala perjuangan yang luar biasa berat apalagi kereta Depok & Bogor memang terkenal selalu padat.
Dengan segala niat dan tekad bulat supaya tidak perlu berkutat dengan kemacetan jakarta, biaya bensin dan tol yang membengkak, juga jaga mulut supaya ga sering ngomel dan mengumpat selama nyetir sendiri, akhirnya sayapun memutuskan untuk naik The Commuter Line dan resmi menjadi "anak kereta".
Naik Commuter Line itu sangat praktis dan benar-benar menghemat waktu dan biaya. Anda belum resmi jadi anker kalau belum punya kartu transaksi elektronik. Beberapa bank mengeluarkan uang elektronik ini. Saya kebetulan sudah punya Flazz dar BCA. Jadi ya tinggal top up aja, dan saat pertama kali naik kereta, kartu ini harus diaktivasi dulu di alat aktivasi yang nempel di stasiun. Setelah kartu aktif, bisa langsung di-tap ke palang pintu, dan setelah sampai di stasiun tujuan, tinggal di-tap lagi di palang pintu keluar untuk langsung didebet sesuai biaya berlaku. Sistem ini udah mirip MRT di Singapore. Praktis dan cashless.
Tapi dibalik itu, butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa naik dan turun dari CL pada saat rush-hour. Favorit saya untuk jam keberangkatan adalah pukul setengah enam pagi. Pada jam segini, volume penumpang pun sudah sangat banyak karena stasiun tempat saya naik (Universitas Indonesia) termasuk stasiun ketiga dari arah Depok, dan entah stasiun keberapa kalau dari arah Bogor. Bayangkan itu orang Bogor pada berangkat jam berapa ya??? Anyway, meski sudah cukup padat, tapi masih memungkinkan saya untuk masuk kereta tanpa perlu menjejalkan diri susah payah.
Satu waktu saya pernah terlambat dan memutuskan naik dari stasiun berikutnya (Universitas Pancasila). Disana saya tertinggal kereta setengah enam dari UI, akhirnya saya menungu kereta berikutnya. Padatnya luar biasa. Saya mau naik saja sampai harus ditarik oleh orang yang sudah didalam, dan nyaris terjepit pintu yang tidak mau menutup! Sesak luar biasa sampai rasanya tulang belikat saya agak bergeser (hiperbola, tapi memang kayaknya otot saya ketarik sih). Kebetulan gerbong wanita penuh sekali, jadi saya dapat yang gerbong umum.
Perlu diketahui, gerbong wanita, meskipun isinya wanita semua (dan satu petugas laki-laki yang entah harus bahagia atau menderita didempetin cewek-cewekyang beringas setiap hari), justru merupakan gerbong yang sadis. Entah kenapa para wanita ini perkasa dan cukup tega saat dorong-dorongan, kadang sampai cakar-cakaran, ditambah komentar dari mulutnya pun sadis. Untungnya di gerbong wanita, udaranya cukup segar, karena umumnya wanita-wanita lebih sedikit berkeringat dibandingkan laki-laki. Saya cukup bersyukur tinggi badan saya lumayan menolong untuk dapat bernafas lega, karena para wanita umumnya mungil-mungil. Berbeda dengan gerbong umum, para pria tenaganya lebih kuat dan tubuhnya juga lebih tinggi. Tapi mereka justru tidak dorong-dorongan. Yang saya khawatirkan cuma saat kereta padat, ada pria yang memanfaatkan kesempatan saat berdesakan dengan wanita. Belum lagi bau badan pria cukup parah saat berkeringat (apalagi jam pulang kantor..hiiyyy..)
Trik paling aman saat naik kereta dalam kondisi penuh ada 3:
1. Pakai ransel! Amankan barang berharga dan pakai ransel di depan. Ga usah sok cantik pakai tas girly kalau bawaan kamu banyak. Ribet!
2. Pakai sepatu yang kuat dan nyaman. Resiko terinjak dan berdiri cukup lama mengharuskan sepatu kamu tahan banting tapi tetap cukup nyaman. Jangan pakai sandal apalagi sandal jepit. Sandal lebih gampang lepas dan kaki juga sakit terinjak-injak.
3. Pilih posisi di tengah. Jangan berdiri dekat bangku karena ga nyaman saat sedang penuh, kamu bisa terdorong ke arah penumpang yang duduk. Jangan dekat pintu karena repot kalau ada ynag turun, kadang jadi terbawa arus, padahal kamu belum saatnya turun. Pilih posisi tengah dan cukup dekat pintu supaya mudah keluar tapi juga tidak terlalu terdorong-dorong.
Saat kondisi sepadat itu, banyak hal-hal lucu yang terjadi. Misalnya saja, saya jadi sering tidak sengaja membaca isi chat orang di sekeliling saya. Bukannya bermaksud melihat, tapi memang posisi berdiri yang super padat membuat saya otomatis menghadapi punggung orang yang sedang asik chatting di handheldnya. Ada juga ibu-ibu yang terus mengeluh kalau badannya terdorong dari sana sini. Atau ada ibu hamil yang sekuat tenaga melalui kerumunan supaya dapat tempat duduk sambil teriak-teriak "Hamil..hamil..."
Ga ada habisnya kalau sudah beralasan terlambat karena macet. Basi.
Saya salah satu warga yang ikut-ikutan menambah kepadatan Jakarta sejak 11 bulan terakhir ini. Sudah mencoba beberapa alternatif transportasi rumah-kantor. Dari menyetir mobil sendiri, naik bis departemen yang kebetulan ngetem depan komplek, naik ojek + transjakarta, naik ojek + commuterline, nebeng temen, semua udah! Yang terakhir kayaknya ga bisa dianggep rutinitas, malu juga nebeng melulu, hehehe..
Dari semua alternatif transportasi tersebut diatas, favorit saya naik bis departemen. Karena sudah pasti dapat kursi, dan bisa bobo sepanjang perjalanan, ongkosnya juga murah cuma IDR 9K saja dari Bekasi sampai Sudirman! Cuma kendalanya, kalau telat sedikit aja biasanya ditinggal dan kadang kalau bisnya bermasalah, harus buru-buru switching plan naik angkutan umum lainnya.
Transportasi paling menyebalkan adalah Transjakarta! Naik ini mah bukannya bikin praktis tapi malah tambah lelet. Masalahnya jalur busway belum sepenuhnya steril. Menuju haltenya pun terlalu panjang dan jauh. Ditambah lagi bisnya pun sudah bulukan, kadang ac-nya mati dan suka ada berita bis Transjakarta yang terbakar atau meledak!
Paling ideal itu (seharusnya) naik commuter line. Waktu tempuhnya pas. Jadwalnya (seringnya) on time. Dan hampir semua stasiunnya mudah diakses. Harga tiketnya ya ampun MURAH PARAH! (maaf, terlalu antusias sampai capslock - bold).
Ini mungkin beberapa alasan orang-orang rela naik CL sampai desak-desakan. Dan yang saya maksud desak-desakan itu betul-betul harfiah. Sampai bisa tidur sambil berdiri tanpa pegangan dan ga jatuh!
Berhubung selama 3 bulan saya ada urusan dan harus tinggal di Depok yang super macet sekali kalau harus menyetir sendiri setiap hari ke kantor, sayapun mulai memikirkan alternatif transportasi dengan Commuter Line.
Naik kereta cukup 'tricky'. Bahkan teman saya bilang kalau saya ga akan sanggup deh naik kereta dengan segala perjuangan yang luar biasa berat apalagi kereta Depok & Bogor memang terkenal selalu padat.
Dengan segala niat dan tekad bulat supaya tidak perlu berkutat dengan kemacetan jakarta, biaya bensin dan tol yang membengkak, juga jaga mulut supaya ga sering ngomel dan mengumpat selama nyetir sendiri, akhirnya sayapun memutuskan untuk naik The Commuter Line dan resmi menjadi "anak kereta".
Naik Commuter Line itu sangat praktis dan benar-benar menghemat waktu dan biaya. Anda belum resmi jadi anker kalau belum punya kartu transaksi elektronik. Beberapa bank mengeluarkan uang elektronik ini. Saya kebetulan sudah punya Flazz dar BCA. Jadi ya tinggal top up aja, dan saat pertama kali naik kereta, kartu ini harus diaktivasi dulu di alat aktivasi yang nempel di stasiun. Setelah kartu aktif, bisa langsung di-tap ke palang pintu, dan setelah sampai di stasiun tujuan, tinggal di-tap lagi di palang pintu keluar untuk langsung didebet sesuai biaya berlaku. Sistem ini udah mirip MRT di Singapore. Praktis dan cashless.
Tapi dibalik itu, butuh perjuangan yang luar biasa untuk bisa naik dan turun dari CL pada saat rush-hour. Favorit saya untuk jam keberangkatan adalah pukul setengah enam pagi. Pada jam segini, volume penumpang pun sudah sangat banyak karena stasiun tempat saya naik (Universitas Indonesia) termasuk stasiun ketiga dari arah Depok, dan entah stasiun keberapa kalau dari arah Bogor. Bayangkan itu orang Bogor pada berangkat jam berapa ya??? Anyway, meski sudah cukup padat, tapi masih memungkinkan saya untuk masuk kereta tanpa perlu menjejalkan diri susah payah.
Satu waktu saya pernah terlambat dan memutuskan naik dari stasiun berikutnya (Universitas Pancasila). Disana saya tertinggal kereta setengah enam dari UI, akhirnya saya menungu kereta berikutnya. Padatnya luar biasa. Saya mau naik saja sampai harus ditarik oleh orang yang sudah didalam, dan nyaris terjepit pintu yang tidak mau menutup! Sesak luar biasa sampai rasanya tulang belikat saya agak bergeser (hiperbola, tapi memang kayaknya otot saya ketarik sih). Kebetulan gerbong wanita penuh sekali, jadi saya dapat yang gerbong umum.
Perlu diketahui, gerbong wanita, meskipun isinya wanita semua (dan satu petugas laki-laki yang entah harus bahagia atau menderita didempetin cewek-cewek
Trik paling aman saat naik kereta dalam kondisi penuh ada 3:
1. Pakai ransel! Amankan barang berharga dan pakai ransel di depan. Ga usah sok cantik pakai tas girly kalau bawaan kamu banyak. Ribet!
2. Pakai sepatu yang kuat dan nyaman. Resiko terinjak dan berdiri cukup lama mengharuskan sepatu kamu tahan banting tapi tetap cukup nyaman. Jangan pakai sandal apalagi sandal jepit. Sandal lebih gampang lepas dan kaki juga sakit terinjak-injak.
3. Pilih posisi di tengah. Jangan berdiri dekat bangku karena ga nyaman saat sedang penuh, kamu bisa terdorong ke arah penumpang yang duduk. Jangan dekat pintu karena repot kalau ada ynag turun, kadang jadi terbawa arus, padahal kamu belum saatnya turun. Pilih posisi tengah dan cukup dekat pintu supaya mudah keluar tapi juga tidak terlalu terdorong-dorong.
Saat kondisi sepadat itu, banyak hal-hal lucu yang terjadi. Misalnya saja, saya jadi sering tidak sengaja membaca isi chat orang di sekeliling saya. Bukannya bermaksud melihat, tapi memang posisi berdiri yang super padat membuat saya otomatis menghadapi punggung orang yang sedang asik chatting di handheldnya. Ada juga ibu-ibu yang terus mengeluh kalau badannya terdorong dari sana sini. Atau ada ibu hamil yang sekuat tenaga melalui kerumunan supaya dapat tempat duduk sambil teriak-teriak "Hamil..hamil..."
Yang paling lucu adalah ekspresi dari mas-mas petugas CL yang menjaga gerbong wanita. Mereka seringkali kesulitan berjaga di pintu dan malah didesak-desak ibu-ibu sampai muka dan badannya menempel di kaca pintu kereta. Hahaha..ini lucu sekali kalau lihat aslinya. Mestinya ini pekerjaan idaman para pria, bisa dipepet oleh wanita-wanita layaknya rocker ternama. Tapi tampang si mas petugas itu terlihat menderita sekali.
Jam pulang kantor juga ga kalah padatnya. Kalau mau menghindari kepadatan, bisa pilih untuk pulang di atas jam 7 malam, jam segini relatif lebih lowong karena orang juga punya lebih banyak alternatif kendaraan saat pulang kantor malam hari.
Overall, pengalaman naik CL sangat seru. Meskipun menghemat jarak tempuh, tapi ternyata efek lelah yang dihasilkan, menurut saya, lebih parah daripada menyetir sendiri! Jadi untuk sementara ini saya selang seling naik kereta dengan bawa kendaraan sendiri. Kalau lagi capek, saya pilih bawa kendaraan. Karena berjubelnya CL betul-betul menguras tenaga.
Mudah-mudahan ke depannya transportasi umum di Jakarta sudah integrated dan lebih nyaman lagi.
Jam pulang kantor juga ga kalah padatnya. Kalau mau menghindari kepadatan, bisa pilih untuk pulang di atas jam 7 malam, jam segini relatif lebih lowong karena orang juga punya lebih banyak alternatif kendaraan saat pulang kantor malam hari.
Overall, pengalaman naik CL sangat seru. Meskipun menghemat jarak tempuh, tapi ternyata efek lelah yang dihasilkan, menurut saya, lebih parah daripada menyetir sendiri! Jadi untuk sementara ini saya selang seling naik kereta dengan bawa kendaraan sendiri. Kalau lagi capek, saya pilih bawa kendaraan. Karena berjubelnya CL betul-betul menguras tenaga.
Mudah-mudahan ke depannya transportasi umum di Jakarta sudah integrated dan lebih nyaman lagi.